Jumat, 08 Juli 2011

Pengaruh Sampah di Lingkungan Pemukiman terhadap Kenyamanan Masyarakat

KATA PENGANTAR


Segala puji bagi TUHAN YME karena atas rahmatnya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah ini di susun agar pembaca dapat mengetahui seberapa besar pengaruh sampah di lingkungan pemukiman terhadap kenyamanan masyarakat yang kami sajikan berdasarkan observasi secara langsung di lokasi.

Makalah ini memuat tentang “pengaruh sampah di lingkungan pemukiman terhadap kenyamanan masyarakat” sengaja dipilih karena menarik perhatian penulis yang merasakan secara langsung pengaruh yang di timbulkan dari tumpukan sampah di sekitar tempat tinggal kami untuk di cermati dan perlu mendapat perhatian dari semua pihak yang perduli terhadap lingkungan.

Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada bapak Ir. Eddy Santoso yang telah memberikan mata kuliah Ilmu kealaman dasar dan bimbingannya.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan kepada pembaca untuk lebih peka terhadap lingkungan. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Amin.









                                                                                                                        Penulis






DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR………………………………...                                1

DAFTAR ISI...…………………………………………                               2

BAB I : PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG MASALAH………………                                3
B.     IDENTIFIKASI MASALAH……………………..                                4
C.     PEMBATASAN MASALAH……………………..                               4
D.    PERUMUSAN MASALAH………………………                                4

BAB II : PEMBAHASAN…………………………….                               5

BAB III : PENUTUP
A.KESIMPULAN…………………………………………                          9
B.SARAN………………………………………………                              9

DAFTAR PUSTAKA……………………………….....                               10

















BAB I

PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah

 Sampah merupakan konsekuensi kehidupan yang sering menimbulkan masalah bagi warga. Jumlahnya akan selalu meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dengan beragam aktivitas. Peningkatan jumlah penduduk berarti peningkatan jumlah timbunan sampah.  Dan semakin beragamnya aktivitas maka beragam pula jenis sampah yang di hasilkan terutama sampah yang berasal dari perumahan. Dalam arti sampah ini dihasilkan oleh penduduk setempat yang melakukan pembuangan sisa-sisa dari barang-barang atau produk-produk yang telah mereka pakai. Sampah konsumsi merupakan sampah yang dihasilkan oleh (manusia) pengguna barang (Wikipedia).

Masalah sampah ini sangat menggangu kenyamanan para warga di sekitar lingkungan, khusunsya penghuni asrama Pastor Dominikan. Hal ini di karenakan sistem pembuangan sampah
yang tidak semestinya dan tidak pada tempatnya. Petugas yang membersihkan komplek palapa membuang sampah dari semua rumah yang berada di komplek palapa tersebut di area belakang atau pun ujung jalan dari komplek tersebut. Hal ini jelas mengganggu kenyamanan warga yang tempat tinggal nya berada di penghujung komplek. Terdapat banyak dampak yang di hasilkan dari tumpukan sampah itu, selain mengganggu pemandangan juga dapat menggaanggu kesehatan para warga di karenakan dengan bau dan berbagai binatang pembawa penyakit seperti lalat dan tikus.

 Pemerintahan Kota Pontianak dapat mengambil kebijakan yang tepat untuk menangani masalah sampah yang ada. Masalah yang terjadi di palapa adalah hal yang sama terjadi di seluruh Kota Pontianak. Masalah sampah adalah merupakan isu yang sangat mendesak dan harus menjadi prioritas pemerintah kota. Keterlibatan dan dukungan dari segenap masyarakat tentunya penting demi terwujudnya program pemerintah.

           
Judul makalah ini sengaja dipilih karena menarik perhatian penulis yang terinspirasi dari permasalahan sampah di lingkungan tempat tinggal warga palapa khususnya asrama Pastor Dominikan yang terletak di Jalan Palapa, Pontianak Kota untuk di cermati dan perlu mendapat dukungan dan perhatian dari semua pihak yang peduli terhadap lingkungan.


B.     Identifikasi Masalah

             Sesuai dengan judul makalah ini “Pengaruh Sampah di Lingkungan Pemukiman terhadap Kenyaman Masyarakat” maka masalahnya dapat di identifikasi sebagai berikut :

Bagaimana pengaruh sampah di lingkungan pemukiman terhadap kenyamanan masyarakat?

Bagaiman peran serta kebijakan pemerintah dan cara masyarakat dalam mengelolah sampah ?





C.    Pembatasan Masalah

            Untuk memperjelas ruang lingkup pembahasan, maka masalah yang di bahas di batasi pada masalah :

Pengaruh sampah di lingkungan pemukiman terhadap kenyamanan warga

Kebijakan apa saja yang dapat dilakukan pemerintah dan peran masyarakat terhadap permasalah sampah di lingkungan.



D.    Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah tersebut, masalah-masalah yang di bahas dapat di rumuskan sebagai berikut ;

Bagaimana deskripsi pengaruh sampah di lingkungan terhadap kenyamanan masyarakat ?

Bagaiman peran serta cara yang di lakukan pemerintah dan masyarakat terhadap masalah sampah di lingkungan tempat mereka tinggal ?






BAB II

PEMBAHASAN

Sampah adalah material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses (Wikipedia). Menurut Webster Dictionary, Garbage ( Sampah) unwanted or useless material. Sangatlah benar kalau sampah itu adalah materi-materi yang tidak dinginkan lagi karena sudah tidak ada gunanya. Oleh karena ketidakadaan gunaan itu kita membuang sampah.

Saya tinggal di asrama Pastor Dominikan yang terletak di Jalan Palapa 3c nomor 2. Palapa merupakan kompleks perumahan tentara dan orang-orang cina. Asrama kami terletak di bagian belakang kompleks Palapa. Palapa adalah tempat perumahaan elit, namun sistem pengaturan sampah yang ada tidak se-elit tempatnya. Penduduk membuang sampah di dekat asrama kami, yang masih termasuk komplek palapa. Kesadaran akan bahaya sampah belum terealisasi.
Tumpukan sampah yang dibuang dekat asrama kami adalah sampah yang berasal dari perumahan di Palapa. Setiap pagi petugas pemungut sampah berkeliling untuk mengumpulkan sampah yang ada. Lalu dengan mengunakan gerobak mereka membawanya ke tempat pembuangan sampah yang ada di dekat asrama kami.

           Pembuangan sampah ini sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Menurut tukang buang sampah mereka membuang sampah di dekat asrama pastoran karena sebelumnya tidak ada orang yang tinggal di sekitar karena para penghuni rumah pindah tempat . Ketika sudah ada pembeli  rumah-rumah yang kemudian tinggal di sekitar pembuangan sampah, mereka  mencoba untuk mencari solusi, namun tidak berhasil. Mereka masih membuang sampah  ke tempat yang sama.

Sampah yang ada di sekitar asrama kami adalah sampah konsumsi. Dalam arti sampah ini dihasilkan oleh penduduk setempat yang melakukan pembuangan sisa-sisa dari barang-barang atau produk-produk yang telah mereka pakai. Sampah konsumsi merupakan sampah yang dihasilkan oleh (manusia) pengguna barang (Wikipedia).


Sampah yang ada sangatlah beragam karena sampah-sampah itu berasal dari sampah rumah tangga. Kalau kita tinjau lebih dekat, di sana ada sampah plastik, botol bekas, sisa-sisa makanan, dan kertas. Bahkan kita bisa juga menemukan prabotan-prabotan rumah tangga yang sudah rusak seperti kursi, meja, alat-alat dapur dan lain sebagainya.

Sampah yang sudah ditumpuk bertahun-tahun semakin hari semakin bertambah  tinggi karena sampah yang diuraikan tidak sebanding dengan jumlah sampah yang ditambah. Sampah yang teruraipun hanyalah yang bersifat  Biodegradable, yaitu sampah yang dapat diuraikan secara sempurna oleh proses biologi baik aerob atau anaerob, seperti: sampah dapur, sisa-sisa hewan, sampah pertanian dan perkebunan ( Wikipedia).Sampah yang ada tidak semuanya dapat diuraikan misalnya botol yang terbuat dari bahan plastik. Sampah ini termasuk kedalam kategori Non-Biodegradable, yaitu  sampah yang tidak bisa diuraikan oleh proses biologi( Wikipedia)

Sampah yang ada tidaklah sedap dipandang mata karena sampah yang ada menggangu pemandangan di sekitar. Seringkali pengunjung berkomentar tentang tumpukan sampah yang ada karena mereka terusik oleh pemandangan yang tidak menyenangkan. Bagaimana bisa menyenangkan ketika kita melihat ke luar, asrama kita seperti dikelilingi oleh sampah?

Sampah yang membusuk sangatlah menggangu pernafasan. Angin seringkali membawa bau yang tidak sedap dan terhirup oleh penghuni asrama.. Kami seringkali harus menutup hidung untuk menghindari bau yang ada. Makan merupakan waktu yang nikmat ketika tidak ada hal yang menganggu, namun dengan hadirnya bau yang tidak sedap membuat nafsu makan menurun.

Lalat dan tikus sangat menyukai tempat yang kotor. Tumpukan sampah yang ada di sekitar menjadi tempat bertelur dan makan lalat. Seringkali lalat yang hinggap di sampah masuk ke dalam asrama dan hinggap di makanan yang ada. Tidak heranlah kami terkadang terserang sakit perut. Sedangkan tikus mencari makanan dari sisa-sisa makanan yang dibuang.







Tak jarang sampah-sampah yang ada memenuhi parit-parit di sekitar rumah kami sehingga menyebabkan banjir. Musim penghujan merupakan musim yang tidak mengenak-kan bagi penghuni Asrama Dominikus. Parit-parit yang ada tidak mampu mengalirkan air secara maksimal karena terhalang oleh tumpukan sampah. Hal ini mengakibatkan air hujan terbendung dan mengenangi pekarangan rumah. Genangan air yang ada membawa bau yang tidak sedap serta membunuh rumput-rumput di halaman Asrama Dominukus.

Pada malam hari banyaknya nyamuk yang masuk ke dalam asrama. Banyaknya genangan air di sekitar menyebabkan nyamuk berkembang biak dengan subur. Jadi penghuni Asrama Dominikus mengunakan kelambu untuk melindungi diri dan menjaga tidur malam kami.

Sudah saatnya perubahan dalam pengelolaan sampah dilakukan. Pengelolaan sampah adalah pengumpulan , pengangkutan , pemprosesan , pendaur-ulangan , atau pembuangan dari material sampah (Wikipedia). Pengelolaan sampah yang baik tentu dapat mengurangi dampak negatifnya pada kesehatan, lingkungan dan keindahan.

Pemerintahan Kota Pontianak dapat mengambil kebijakan yang tepat untuk menangani masalah sampah yang ada. Masalah yang terjadi di palapa adalah hal yang sama terjadi di seluruh Kota Pontianak. Masalah sampah adalah merupakan isu yang sangat mendesak dan harus menjadi prioritas pemerintah kota. Keterlibatan dan dukungan dari segenap masyarakat tentunya penting demi terwujudnya program pemerintah.

Kebijakkan pemerintah dapat berupa pengalokasian sampah yang ada di kota ke suatu tempat yang sesuai. Pertama-tama tempat yang sesuai harus jauh dari pemukiman penduduk. Kemudian jarak tempat sampah dengan sumber mata air bersih juga harus menjadi perhatian karena sampah-sampah yang dibuang dapat mencemari sumber air bersih. Berbagai penyakit dapat disebabkan oleh sumber air yang tercemar , misalnya sakit perut. Dan yang tidak kalah pentingnya tempat sampah harus jauh dari daerah pertanian dan perkebunan. Sampah yang tidak terurai Non-Biodegradable dapat menyebabkan padatnya tanah dan menutup permukaan tanah. Kedua hal ini mengurangi kesuburan tanah sehingga daerah pertanian tidaklah mampu lagi menghasilkan dengan baik.

Mengubur sampah merupakan salah satu cara dalam pengelolaan sampah.  Metode ini sangatlah popular di seluruh belahan dunia. Penguburan sampah dapat dilakukan di tanah yang ditinggalkan, lubang bekas pertambangan, atau lubang alam. Suatu tempat penguburan yang dikelola dengan baik menghasilkan tempat pembuangan yang hegenis dan murah.  Penguburan sampah menghindarkan kontak sampah dengan lapisan atmosphere. Sampah yang terekspos  langsung dapat menimbulkan bau yang tak sedap, pemandangan yang tidak menarik dan sarang untuk berbagai jenis mikroorganisme dan makrorganisme penyebab dan pembawa penyakit. Efek samping lain dari sampah adalah gas methan dan karbon dioksida yang juga sangat berbahaya. Contoh nyata: di bandung kandungan gas methan ini meledak dan melongsorkan gunung sampah. (Wikipedia)
Khusus sampah-sampah organik dapat dijadikan pupuk organik yang ramah lingkungan (pengolahan biologis). Zat biologis dapat berupa zat tanaman, sisa makanan atau kertas.  Contoh dari pengelolaan sampah menggunakan teknik pengkomposan adalah Green Bin Program (program tong hijau) di Toronto, Kanada, dimana sampah organik rumah tangga , seperti sampah dapur dan potongan tanaman dikumpulkan di kantong khusus untuk di komposkan. Dengan mengubah sampah organik yang ada dapat membawa keuntungan tersendiri. Pupuk yang berasal dari sampah organik bisa digunakan untuk keperluan pribadi dan bahkan untuk dijual. Bahan pupuk organik sangatlah mudah untuk didapat dan pupuk ini terkenal ramah dengan lingkungan.

Sampah non-organik seperti botol-botol dan kaleng bekas dapat dijadikan hal-hal yang berguna dengan sentuhan seni. Dengan kreatifitasnya manusia bisa menciptakan bunga tiruan dengan plastik dan bekas pipet serta mengunakan kaleng bekas untuk potnya. Banyak juga mainan yang bisa dibuat dari sampah-sampah non organik seperti kaleng dan botol, misalnya untuk membuat mobil main-mainan. Singkatnya kita bisa menyulap sampah yang ada menjadi barang yang memiliki nilai seni dan bahkan nilai jual.
Sistem daur ulang merupakan system yang dapat digunakan dalam penanganan sampah. Proses pengambilan barang yang masih memiliki nilai dari sampah untuk digunakan kembali disebut sebagai daur ulang (Wikipedia). Ada beberapa cara daur-ulang yang ada; yang pertama dengan mengambil bahan sampahnya untuk diproses lagi atau mengambil kalori dari bahan yang bisa dibakar utnuk membangkitkan listik. Kita juga bisa mengunakan sampah yang ada untuk digunakan kembali.

Sampah yang biasa dikumpulkan adalah kaleng minum aluminum , kaleng baja makanan/minuman, Botol HDPE dan PET , botol kaca , kertas karton, koran, majalah, dan kardus. Jenis plastik lain seperti (PVCLDPEPP, dan PS) juga bisa di daur ulang. Daur ulang dari produk yang komplek seperti komputer atau mobil lebih susah, karena harus bagian bagiannya harus diurai dan dikelompokan menurut jenis bahannya.

Pendidikan dan kesadaran di bidang pengelolaan limbah dan sampah tentu sangat penting di dalam masyarakat. Banyak masyarakat yang masih kurang kesadaranya dalam menjaga kebersihan lingkungan. Tentunya pemerintah perlu melakukan penyuluhan tentang pengelolaan sampah yang baik serta memberikan informasi tentang dampak-dampak negative sampah bagi masyarakat dan lingkungan sehingga setiap anggota masyarakat dapat menyadari bahaya sampah yang terus bertambah.


BAB III

PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Berdasarkan uraian bahasan “Pengaruh Sampah di Lingkungan Masyarakat terhadap
Kenyamanan Warga” dapat di simpulakan bahwa :

Pengaruh sampah dilingkungan masyarakat membawa dampak buruk bagi masyarakat
sekitar baik dari segi estetika yang dapat menyebabkan terganggunya pemandangan  maupun kesehatan yang di timbulkan dari sampah tersebut.

Penanganan sampah harus dilaksanakan dengan sebaik dan seefisien mungkin dengan
peran serta  warga dan pemerintah dalam menangani persoalan yang ada.




B.     SARAN

Bertolak dari pengaruh sampah yang begitu banyak membawa dampak negative bagi para
warga, maka penyusun memberikan saran sebagai berikut :

Hendaknya para warga ikut berperan dalam menangani sampah, baik melakukann penguburan   sampah, daur ulang dan hal hal bermanfaat lainnya dalam upaya menciptakan lingkungan yang nyaman, aman, dan bersih.

Peran pemerintah untuk melakukan penyuluhan tentang pengelolaan sampah yang baik serta memberikan informasi tentang dampak negative sampah bagi masyarakat dan lingkungan sehingga setiap anggota masyarakat dapat menyadari pentingnya untuk menjaga kebersihan lingkungan.








DAFTAR PUSTAKA





   
           

Makalah manusia sebagai makhluk sosial

BAB I

KATA PENGANTAR



       Penulis panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul  “ Manusia Sebagai Makhluk Sosial “.
       Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad Saw.
     Makalah ini dibuat penulis untuk memenuhi mata kuliah ISBD.
     Makalah ini dapat diselesaikan berkat saran dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu,tidak lupa Penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1.    Orang tua yang telah memberi dukungan nya baik secara moril maupun materil
2.    Prof. Mashudi sebagai dosen mata kuliah
3.    Serta semua pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan dalam proses pembuatan makalah ini.

      Dengan diselesaikannya makalah ini,penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat, penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak untuk perbaikan dimasa mendatang




                                                                         Pontianak,18 November 2010





                                                                                    Ridho Mustamar Putra
i
BAB II


Daftar Isi


BAB I KATA PENGANTAR  ...........................................................     i

BAB II DAFTAR ISI   .....................................................................      ii

BAB III MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL   ...............     1

III.1. Pengertian   ..............................................................................     1

III.2. Karakteristik Manusia Sebagai Makhluk Sosial   ..............      1

III.3. Kedudukan Manusia sebagai Makhluk Sosial    ..................     2

III.4. Pengembangan Manusia Sebagai Makhluk Sosial   ...........      3

III.5. Interaksi Sosial dan Sosialisasi   ...........................................      3

KESIMPULAN   ..............................................................................      8

















ii

BAB III

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL

III.1. Pengertian

     Manusia adalah makhluk yang selalu berinteraksi dengan sesamanya.
Manusia tidak dapat mencapai apa yang diinginkan dengan dirinya sendiri.
Sebagai makhluk sosial karena manusia menjalankan peranannya dengan
menggunakan simbol untuk mengkomunikasikan pemikiran dan perasaanya.
Manusia tidak dapat menyadari individualitas, kecuali melalui medium kehidupan
sosial.
     Esensi manusia sebagai makhluk sosial pada dasarnya adalah kesadaran
manusia tentang status dan posisi dirinya adalah kehidupan bersama, serta
bagaimana tanggungjawab dan kewajibannya di dalam kebersamaan.

III.2. Karakteristik Manusia Sebagai Makhluk Sosial

     Telah berabad-abad konsep manusia sebagai makhluk sosial itu ada yang
menitik beratkan pada pengaruh masyarakat yang berkuasa kepada individu.
Dimana memiliki unsur-unsur keharusan biologis, yang terdiri dari:
1. Dorongan untuk makan
2. Dorongan untuk mempertahankan diri
3. Dorongan untuk melangsungkan jenis
    Dari tahapan diatas menggambarkan bagaimana individu dalam
perkembangannya sebagai seorang makhluk sosial dimana antar individu
merupakan satu komponen yang saling ketergantungan dan membutuhkan.
Sehingga komunikasi antar masyarakat ditentukan oleh peran oleh manusia
sebagai makhluk sosial.
    Dalam perkembangannya manusia juga mempunyai kecenderungan sosial
untuk meniru dalam arti membentuk diri dengan melihat kehidupan masyarakat
yang terdiri dari :
1) Penerimaan bentuk-bentuk kebudayaan, dimana manusia menerima
bentuk-bentuk pembaharuan yang berasal dari luar sehingga dalam diri
manusia terbentuk sebuah pengetahuan.
2) Penghematan tenaga dimana ini adalah merupakan tindakan meniru untuk
tidak terlalu menggunakan banyak tenaga dari manusia sehingga kinerja
mnausia dalam masyarakat bisa berjalan secara efektif dan efisien.
     Pada umumnya hasrat meniru itu kita lihat paling jelas di dalam ikatan
kelompok tetapi juga terjadi didalam kehidupan masyarakat secara luas. Dari
gambaran diatas jelas bagaimana manusia itu sendiri membutuhkan sebuah
interaksi atau komunikasi untuk membentuk dirinya sendiri malalui proses
meniru. Sehingga secara jelas bahwa manusia itu sendiri punya konsep sebagai
makhluk sosial.
  


                                                                          1
     Yang menjadi ciri manusia dapat dikatakan sebagai makhluk sosial adalah
adanya suatu bentuk interaksi sosial didalam hubugannya dengan makhluk sosial
lainnya yang dimaksud adalah dengan manusia satu dengan manusia yang
lainnya. Secara garis besar faktor-faktor personal yang mempengaruhi interaksi
manusia terdiri dari tiga hal yakni :


1) Tekanan emosional.
     Ini sangat mempengaruhi bagaimana manusia
berinteraksi satu sama lain.
2) Harga diri yang rendah.
    Ketika kondisi seseorang berada dalam kondisi
manusia yang direndahkan maka akan memiliki hasrat yang tinggi untuk
berhubungan dengan orang lain karena kondisi tersebut dimana orang
yang direndahkan membutuhkan kasih saying orang lain atau dukungan
moral untuk membentuk kondisi seperti semula.
3) Isolasi sosial.
    Orang yang terisolasi harus melakukan interaksi dengan
orang yang sepaham atau sepemikiran agar terbentuk sebuah interaksi
yang harmonis
    Manusia adalah makhluk yang selalu berinteraksi dengan sesamanya.
Manusia tidak dapat mencapai apa yang diinginkan dengan dirinya sendiri.
Sebagai makhluk sosial karena manusia menjalankan peranannya dengan
menggunakan simbol untuk mengkomunikasikan pemikiran dan perasaanya.
Manusia tidak dapat menyadari individualitas, kecuali melalui medium kehidupan
sosial.
    Manisfestasi manusia sebagai makhluk sosial, nampak pada kenyataan
bahwa tidak pernah ada manusia yang mampu menjalani kehidupan ini tanpa
bantuan orang lain.

III.3. Kedudukan Manusia sebagai Makhluk Sosial

     Manusia sebagai makhluk sosial artinya manusia sebagai warga
masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak dapat hidup sendiri atau
mencukupi kebutuhan sendiri. Meskipun dia mempunyai kedudukan dan
kekayaan, dia selalu membutuhkan manusia lain. Setiap manusia cenderung untuk
berkomunikasi, berinteraksi, dan bersosialisasi dengan manusia lainnya. Dapat
dikatakan bahwa sejak lahir, dia sudah disebut sebagai makhluk sosial.
    Hakekat manusia sebagai makhluk sosial dan politik akan membentuk
hukum, mendirikan kaidah perilaku, serta bekerjasama dalam kelompok yang
lebih besar. Dalam perkembangan ini, spesialisasi dan integrasi atau organissai
harus saling membantu. Sebab kemajuan manusia nampaknya akan bersandar
kepada kemampuan manusia untuk kerjasama dalam kelompok yang lebih besar.
Kerjasama sosial merupakan syarat untuk kehidupan yang baik dalam masyarakat
yang saling membutuhkan.
    Kesadaran manusia sebagai makhluk sosial, justru memberikan rasa
tanggungjawab untuk mengayomi individu yang jauh lebih ”lemah” dari pada
wujud sosial yang ”besar” dan ”kuat”. Kehidupan sosial, kebersamaan, baik itu
non formal (masyarakat) maupun dalam bentuk-bentuk formal (institusi, negara)
dengan wibawanya wajib mengayomi individu.
                                                         2
III.4. Pengembangan Manusia Sebagai Makhluk Sosial

    Di dalam kehidupannya, manusia tidak hidup dalam kesendirian. Manusia
memiliki keinginan untuk bersosialisasi dengan sesamanya. Ini merupakan salah
satu kodrat manusia adalah selalu ingin berhubungan dengan manusia lain. Hal ini
menunjukkan kondisi yang interdependensi. Di dalam kehidupan manusia
selanjutnya, ia selalu hidup sebagai warga suatu kesatuan hidup, warga
masyarakat, dan warga negara. Hidup dalam hubungan antaraksi dan
interdependensi itu mengandung konsekuensi-konsekuensi sosial baik dalam arti
positif maupun negatif. Keadaan positif dan negatif ini adalah perwujudan dari
nilai-nilai sekaligus watak manusia bahkan pertentangan yang diakibatkan oleh
interaksi antarindividu. Tiap-tiap pribadi harus rela mengorbankan hak-hak
pribadi demi kepentingan bersama Dalam rangka ini dikembangkanlah perbuatan
yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan
kegotongroyongan. Pada zaman modern seperti saat ini manusia memerlukan
pakaian yang tidak mungkin dibuat sendiri.
    Tidak hanya terbatas pada segi badaniah saja, manusia juga mempunyai
perasaaan emosional yang ingin diungkapkan kepada orang lain dan mendapat
tanggapan emosional dari orang lain pula. Manusia memerlukan pengertian, kasih
saying, harga diri pengakuan, dan berbagai rasa emosional lainnya. Tanggapan
emosional tersebut hanya dapat diperoleh apabila manusia berhubungan dan
berinteraksi dengan orang lain dalam suatu tatanan kehidupan bermasyarakat.
Dalam berhubungan dan berinteraksi, manusia memiliki sifat yang khas yang
dapat menjadikannya lebih baik. Kegiatan mendidik merupakan salah satu sifat
yang khas yang dimiliki oleh manusia. Imanuel Kant mengatakan, "manusia
hanya dapat menjadi manusia karena pendidikan". Jadi jika manusia tidak dididik
maka ia tidak akan menjadi manusia dalam arti yang sebenarnya. Hal ini telah
terkenal luas dan dibenarkan oleh hasil penelitian terhadap anak terlantar. Hal
tersebut memberi penekanan bahwa pendidikan memberikan kontribusi bagi
pembentukan pribadi seseorang.
     Dengan demikian manusia sebagai makhluk sosial berarti bahwa
disamping manusia hidup bersama demi memenuhi kebutuhan jasmaniah,
manusia juga hidup bersama dalam memenuhi kebutuhan rohani.

III.5. Interaksi Sosial dan Sosialisasi

III.5.1. Pengertian Interaksi Sosial

    Manusia dalam hidup bermasyarakat, akan saling berhubungan dan saling
membutuhkan satu sama lain. Kebutuhan itulah yang dapat menimbulkan suatu
proses interaksi sosial.
    Maryati dan Suryawati (2003) menyatakan bahwa, “Interaksi sosial adalah
kontak atau hubungan timbal balik atau interstimulasi dan respons antar individu,
antar kelompok atau antar individu dan kelompok”. Pendapat lain dikemukakan
oleh Murdiyatmoko dan Handayani (2004), “Interaksi sosial adalah hubungan
antar manusia yang menghasilkan suatu proses pengaruh mempengaruhi yang
menghasilkan hubungan tetap dan pada akhirnya memungkinkan pembentukan
struktur sosial” . “Interaksi positif hanya mungkin terjadi apabila terdapat suasana
saling mempercayai, menghargai, dan saling mendukung” (Siagian, 2004).
   
3
       Berdasarkan definisi di atas maka dapat menyimpulkan bahwa interaksi                        
sosial adalah suatu hubungan antar sesama manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain baik itu dalam hubungan antar individu, antar kelompok maupun
atar individu dan kelompok.

III.5.2. Macam - Macam Interaksi Sosial

    Menurut Maryati dan Suryawati (2003) interaksi sosial dibagi menjadi tiga
macam, yaitu :
1. Interaksi antara individu dan individu
    Dalam hubungan ini bisa terjadi interaksi positif ataupun negatif. Interaksi
positif, jika jika hubungan yang terjadi saling menguntungkan. Interaksi negatif,
jika hubungan timbal balik merugikan satu pihak atau keduanya (bermusuhan).
2. Interaksi antara individu dan kelompok
    Interaksi ini pun dapat berlangsung secara positif maupun negatif. Bentuk
interaksi sosial individu dan kelompok bermacam - macam sesuai situasi dan
kondisinya.
3. Interaksi sosial antara kelompok dan kelompok
    Interaksi sosial kelompok dan kelompok terjadi sebagai satu kesatuan
bukan kehendak pribadi. Misalnya, kerja sama antara dua perusahaan untuk
membicarakan suatu proyek.

III.5.3. Bentuk - Bentuk Interaksi Sosial

    Berdasarkan pendapat menurut Tim Sosiologi (2002), interaksi sosial
dikategorikan ke dalam dua bentuk, yaitu :

1. Interaksi sosial yang bersifat asosiatif, yakni yang mengarah kepada
bentuk - bentuk asosiasi (hubungan atau gabungan) seperti :
a. Kerja sama
    Kerja sama adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau
kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
b. Akomodasi
    Akomodasi adalah suatu proses penyesuaian sosial dalam interaksi antara
pribadi dan kelompok - kelompok manusia untuk meredakan pertentangan.
c. Asimilasi
    Asimilasi adalah proses sosial yang timbul bila ada kelompok masyarakat
dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda, saling bergaul secara intensif
dalam jangka waktu lama, sehingga lambat laun kebudayaan asli mereka akan
berubah sifat dan wujudnya membentuk kebudayaan baru sebagai kebudayaan
campuran.
d. Akulturasi
    Akulturasi adalah proses sosial yang timbul, apabila suatu kelompok
masyarakat manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur -
unsur dari suatu kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga lambat laun unsur -
unsur kebudayaan asing itu diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri,
tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian dari kebudayaan itu sendiri.

2. Interaksi sosial yang bersifat disosiatif, yakni yang mengarah kepada
bentuk - bentuk pertentangan atau konflik, seperti :
4
a. Persaingan
    Persaingan adalah suatu perjuangan yang dilakukan perorangan atau
kelompok sosial tertentu, agar memperoleh kemenangan atau hasil secara
kompetitif, tanpa menimbulkan ancaman atau benturan fisik di pihak lawannya.
b. Kontravensi
    Kontravensi adalah bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan
dan pertentangan atau konflik. Wujud kontravensi antara lain sikap tidak senang,
baik secara tersembunyi maupun secara terang - terangan yang ditujukan terhadap
perorangan atau kelompok atau terhadap unsur - unsur kebudayaan golongan
tertentu. Sikap tersebut dapat berubah menjadi kebencian akan tetapi tidak sampai
menjadi pertentangan atau konflik.
c. Konflik
    Konflik adalah proses sosial antar perorangan atau kelompok masyarakat
tertentu, akibat adanya perbedaan paham dan kepentingan yang sangat mendasar,
sehingga menimbulkan adanya semacam gap atau jurang pemisah yang
mengganjal interaksi sosial di antara mereka yang bertikai tersebut.

III.5.4. Ciri - Ciri Interaksi Sosial

    Menurut Tim Sosiologi (2002), ada empat ciri - ciri interaksi sosial, antara
lain :
a. Jumlah pelakunya lebih dari satu orang
b. Terjadinya komunikasi di antara pelaku melalui kontak sosial
c. Mempunyai maksud atau tujuan yang jelas
d.Dilaksanakan melalui suatu pola sistem sosial tertentu

III.5.5. Syarat - Syarat Terjadinya Interaksi Sosial

    Berdasarkan pendapat menurut Tim Sosiologi (2002), interaksi sosial
dapat berlangsung jika memenuhi dua syarat di bawah ini, yaitu: :
a. Kontak sosial
    Kontak sosial adalah hubungan antara satu pihak dengan pihak lain yang
merupakan awal terjadinya interaksi sosial, dan masing - masing pihak saling
bereaksi antara satu dengan yang lain meski tidak harus bersentuhan secara fisik.
b. Komunikasi
    Komunikasi artinya berhubungan atau bergaul dengan orang lain.

III.5.6. Faktor-faktor interaksi sosial

a. Imitasi
    Imitasi adalah mematuhi kaidah-kaidah yang sudah ada, meng-copy dan
meneruskan aturan yang telah berlaku.
b. Sugesti
    Sugesti adalah suatu ide yang didasari oleh kepercayaan diri, inisiatif, atas
dasar ilham, egosentris, atau wawasan pengetahuan, kemudian diterima oleh pihak
lain baik secara otoriter ataupun karena berwibawa dan berpengaruh.
c. Identifikasi
    Identidikasi adalah proses pencarian diri dengan melalui penglihatan
terhadap orang lain yang di idealkan-nya, hal tersebut berlangsung secara tidak
sadar disertai adanya keinginan untuk mencontoh.
5
d. Simpati
     Simpati adalah rasa tertarik seseorang terhadap orang lain, hal tersebut
didasari oleh penghormatan karena mempunyai kelebihan, kemampuan, yang
patut dijadikan contoh. Rasa simpati keluar dengan sendirinya tanpa adanya
paksaan, kemudian timbul rasa untuk memahami pihak lain dan keinginan untuk
bekerjasama. .

III.5.7. Pengertian Sosialisasi
     Peter Berger mendefinisikan sosialisasi sebagai suatu proses di mana seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat (Berger, 1978:116).
Salah satu teori peranan dikaitkan sosialisasi ialah teori George Herbert Mead. Dalkam teorinya yang diuraikan dalam buku Mind, Self, and Society (1972). Mead menguraikan tahap-tahap pengembangan secara bertahap melalui interaksi dengan anggota masyarakat lain, yaitu melalui beberapa tahap-tahap play stage, game sytage, dan tahap generalized other.
     Menurut Mead pada tahap pertama, play stage, seorang anak kecil mulai belajar mengambil peranan orang-orang yang berada di sekitarnya.
      Pada tahap game stage seorang anak tidak hanya telah mengetahui peranan yang harus dijalankannya, tetapi telah pula mengetahui peranan yang harus dijalankan oleh orang lain dengan siapa ia berinteraksi.
      Pada tahap ketiga sosialisasi, seseorang dianggap telah mampu mengambil peran-peran yang dijalankan orang lain dalam masyarakat yaitu mampu mengambil peran generalized others. Ia telah mampu berinteraksi denagn orang lain dalam masyarakat karena telah memahami peranannya sendiri serta peranan orang-orang lain dengan siapa ia berinteraksi.
Menurut Cooley konsep diri (self-concept) seseorang berkembang melalalui interaksinya dengan orang lain. Diri yang berkembang melalui interaksi dengan orang lain ini oleh Cooley diberi nama looking-glass self.
     Cooley berpendapat looking-glass self terbentuk melalui tiga tahap. Tahap pertama seseorang mempunyai persepsi mengenaoi pandangan orang lain terhadapnya. Pada tahap berikut seseorang mempunyai persepsi mengenai penilain oreang lain terhadap penampilannya. Pada tahap ketiga seseorang mempunyai perasaan terhadap apa yang dirasakannya sebagai penilaian orang lain terhadapnya itu.
     Pihak-pihak yang melaksanakan sosialisasi itu menurut Fuller and Jacobs (1973:168-208) mengidentifikasikan agen sosialisasi utama: keluarga, kelompok bermain, media massa, dan sistem pendidikan.

III.5.8. Bentuk dan Pola Sosialisasi
a. Bentuk-bentuk Sosialisasi
     Sosialisasi merupakan suatu proses yang berlangsung sepanjang hidup manusia. Dalam kaitan inilah para pakar berbicara mengenai bentuk-bentuk proses sosialisasi seperti sosialisasi setelah masa kanak-kanak, pendidikan sepanjang hidup, atau pendidikan berkesinambungan.
b. Pola-pola Sosialisasi
     Pada dasarrnya kita mengenal dua pola sosialisasi, yaitu pola represi yang menekankan pada penggunaan hukuman terhadap kesalahan. Dan pola partisipatori yabg merupakan pola yang didalamnya anak diberi imbalan manakala berperilaku baik dan anak menjadi pusat sosialisasi.


6
c. Masyarakat dan Komunitas
     Masyarakat itu merupakan kelompok atau kolektifitas manusia yang melakuakn antar hubungan, sedikit banyak bersifat kekal, berlandaskan perhatian dan tujuan bersama, serta telah melakukan jalinan secara berkesinambungan dalam waktu yang relatif lama. Unsur-unsur masyarakat yaitu: kumpulan orang, sudah terbentuk dengan lama, sudah memiliki sistem dan struktur sosial tersendiri, memiliki kepercayaan, sikap, dan perilaku yang dimiliki bersama, adanya kesinambungan dan pertahanan diri, dan memiliki kebudayaan.
d. Masyarakat Setempat (community)
    Masyarakat setempat menunjukan pada bagianmasyarakat yang bertempat tinggal disatu wilayah (dalam arti geografis) dengan batas-batas tertentu dimana faktor utama yang menjadi dasarnya adalah interaksi yang lebih besar diantara anggota-anggotanya, dibandingkan interaksi dengan penduduk diluar batas wilayahnya.
e. Masyarakat Desa dan Masyarakat Kota
    Menurut Soerjono Soekamto, masyarakat kota dan desa memiliki perhatian yang berbeda, khususnya terhadap perhatian keperluan hidup. Di desa, yang diutamakan adalah perhatian khusus terhadap keperluan pokok, fungsi-fungsi yang lain diabaikan. Lain dengan pandangan orang kota, mereka melihat selain kebutuhan pokok, mereka melihat selain kebutuhan pokok, pandangan sekitarnya sangat mereka perhatikan.
f. Masyarakat Multikultural
    Perlu diketahui, ada tiga istilah yang digunakan secara bergantian untuk mengambarkan masyarakat yang terdiri atas agama, ras, bahasa dan budaya yang berbeda, yaitu pluralitas, keragaman, dan multikultural.
     Konsep pluralitas menekankan pada adanya hal-hal yang lebih dari satu (banyak). Keragaman menunjukan bahwa keberadaanya yang lebih dari satu itu berbeda-beda, heterogen, dan bahkan tidak dapat dipersamakan. Sementara itu, konsep multikultralisme sebenarnya merupakan konsep yang relatif baru. Inti dari multikulturalisme adalah kesediaan menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan, tanpa memperdulikan perbedaan budaya, etnik, gender, bahasa ataupun agama. Jadi, apabila pluralitas hanya menggambarkan kemajemukan, multikulturalisme meberikan penegasan bahwa dengan segala perbedaannya itu mereka adalah sama diruang publik.
g. Pengaruh Multikultural Terhadap Kehidupan Beragama, Bermasyarakat, Bernegara dan Kehidupan Global
     Problematika yang muncul dari keragaman yaitu munculnya berbagai kasus disintegrasi bangsa dan bubarnya sebuah negara, dapat disimpulkan adanya lima faktor utama yang secara gradual bisa menjadi penyebab utama proses itu, yaitu: kegagalan kepemimpinan, krisis ekonomi yang akut dan berlangsung lama, krisis politik, krisis sosial, dan intervensi asing.
     Realitas keragaman budaya bangsa ini tentu membawa konsekuensi munculnya persoalan gesekan antar budaya, yang mempengaruhi dinamika kehidupan bangsa sebagai kelompok sosial, oleh sebab itu kita harus bersikap terbuka melihat semua perbedaan dalam keragaman yang ada, meenjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan, dan menjadikan keragaman sebagai kekayaan bangsa, alat pengikta persatuan seluruh masyarakat dalam kebudayaan yang beraneka ragam.



7



KESIMPULAN

Manusia Sebagai Makhluk Sosial

     Menurut kodratnya manusia adalah makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat, selain itu juga diberikan yang berupa akal pikiran yang berkembang serta dapat dikembangkan. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat dalam kehidupannya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia.
    Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya.

Dapat disimpulkan, bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, karena beberapa alasan, yaitu:
a. Manusia tunduk pada aturan, norma sosial.
b. Perilaku manusia mengaharapkan suatu penilain dari orang lain.
c. Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain
d. Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia.